Setiap orang punya kebutuhan akan rasa aman, koneksi, bonding, sense of belonging, feeling seen, feeling heard, diterima apa adanya, dicintai, dipahami, diperhatikan, dipedulikan, dihargai as human being. Itu semua kebutuhan dasar manusia, bukan sesuatu yang berlebihan apalagi needy. Ada orang yang lahir di lingkungan dan keluarga yang memenuhi kebutuhannya, ada yang terpenuhi sebagian, ada pula yang sampai defisit.
Hal-hal yang kurang dan lack of akan hal tersebut, akan terus dicari hingga dewasa bahkan di usia senja. Ada yang mencari dan mengisinya dengan makanan, belanja, pencapaian, being people pleaser, selalu harus punya pasangan. Ada pula yang jadi sibuk ngurusin dan menyelamatkan orang dengan mengabaikan diri, berharap kebutuhan akan cinta, bonding, koneksi, dan sense of belonginya terpenuhi. Sayangnya, banyak manusia yang hanya peduli dengan dirinya dan ingin menerima/ menerima untuk mendapatkan sesuatu. Saat yang memberi hingga dirinya lebih defisit dari sebelumnya, bertemu dengan orang yang hanya ingin menggambil tanpa memberi balik, ya akan muncul resentment, ledakan emosi, bahkan membuat dirinya sendiri semakin menderita.
Selama masih manusia dan hidup di dunia, kebutuhan itu akan ada.
Ada bahkan banyak hal yang membuat kebutuhan itu tidak terpenuhi dan orang gak mau kasih. Hal ini akan memberikan masalah baru yang berlapis-lapis dan berdampak domino. Saat kecil diabaika, care giver sibuk bekerja dan ngurusin orang, sata dewasa setiap orang sudha punya circle nya masing-masing, semakin tua semakin sulit. Apalagi orang-orang yang hidupnya sudha baik, sangat baik, semua kebutuhannya terpenuhi sejak kecil, punya circle, keluarga, pasangan; mereka males masukin orang baru ke dalam circlenya apalagi to care karena kebutuhannya sudha terpenuhi semua dan tidak ada kepentingan appaun terhadap orang baru tersebut.
---------
Kenapa dunia berfungsi seperti ini?
Knp kita ga bisa saling mengasihi siapapun yang memang membutuhkan?
Knp untuk memberi cinta sekedar tanya kabar, validasi, apresiasi saja pelit?
Knp perlu alasan "siapa" dan level kedekatan untuk perlu dipedulikan?
Ada yang baik dan menolong karena baik, ada yang baik karena ingin dapat pengakuan dan merasa berharga, ada yang baik ya sekedar baik aja karena sedang luang/iseng/cari pahala. Tapi saat orang yang ditolongnya mulai dekat, mendekat, terbuka, atau agak nempel; orang menjauh dan me-reject dengan alasan boundaries yg tak pernah dikomunikasikan dengan baik. Kebayang ga itu perasaan orang gimana? Kaya dikasih cinta yang tak pernah ia dapatkan puluhan tahun, terus dibuang.
Apakah saat membantu orang, itu dari gelas yang penuh atau gelas kosong?
Apakah saat berbuat baik, murni tulus atau ada hidden agenda?
Apakah boundaries yang dibuat itu benar-benar boundaries untuk menghargai diri sendiri atau atas dasar takut? takut ditempelin, takut diribetin, takut direpotin, takut ini itu dimana ada asumsi dan judgement (bukan berdasarkan data fakta dan kejadian kedepannya).
Setiap manusia bisa merasakan, levelnya saja yang berbeda.
Orang bisa merasakan mana boundaries dan mana rejection. Begitupun dapat merasakan saat dirinya di judge (judgement itu sesuatu yang belum tentu benar, berbeda dengan awareness - kesadasaran dan intuisi yang memang membawa info dari "masa depan"). Misal: "wah dia lg struggle hidupnya, kalo gw bantu nanti dia jd nempel, yaudah ga usah dibantu deh". Padahal belum tentu. Atau saat dibantu, taunya dia nempel, yaudah abaikan dna reject ah. Realitanya bisa jadi 2-3x stabil direspon, kebutuhan orang ini sudha terpenuhi dan never nempel2. Termasuk judgement-judgement personal dan projection.
---------
Kembali ke kebutuhan emosi yang tak terpenuhi.
Saat seseorang melakukan dan memilih sesuatu dengan hidden agenda to fill their needs yang sudha lama kosong, kecenderungan bereaksinya tinggi. Misal: Ia menikah dengan tujuann ingin dicintai dna dibahagiakan. Saat pasangannya selingkuh dan tidak mencintai sesuai harapannya, ia akan sedih dan merasa dirinya korban. Antara jadi demanding, marah-marah, cari pelampiasan, menyiksa pasangannya, atau merasa dirinya korban. Berbeda saat ia menikah dalam keadaan sudah penuh, mencintai dirinya sendiri, tidak ada hidden agenda apapun. Saat suaminya ini itu berulah macem-macem dan hilang cintanya, ia akan tenang meski ada sedih yang hadir. Ia bisa berkomunikasi dengan baik dan menyudahi pernikahannya atas dasar menghargai dirinya sendiri. Dan saat berpisah, ia masih bisa sayang, peduli, memberi kasih pada mantan pasangannya. Karena dari awal ia tidak ada niat untuk "menggambil", Ia sudah utuh, penuh, dan memberi apa yang bisa dikontribusika dengan tetap menghargai dan mencintai dirinya sendiri.
---------
Buat yang sedang sendirian, yang kebutuhan dasar as humannya tidak terpenuhi dan lack of dalam waktu lama, ya pertolongan pertama: Inget Allah sayang kita, inget nabi Muhammad doain kita dari sebelum kita lahir di dunia; inget ada kok manusia yang mau peduli, terkoneksi, saling memenuhi, cuma mungkin belum ketemu aja. Karena memang akan sulit memberikan diri sendiri hal-hal yang tak pernah didapatkan, gak ngerti dan gatau gimana sih rasanya dicintai, disayang, diterima, di support, dipeduliin. Ga familiar rasanya, jadi akan sulit juga ngasih ke diri sendiri dan sellau mengandalkan diri 100%. Kita manusia, bukan Tuhan. Wajar kalau butuh manusia lain, itu bukan aib, bukan hal berlebihan, buka kelemahan. Kalau pun ada manusia yang sebenarnya bisa memenuhi tapi gak mau kasih, lalu blamming dan labeling "kamu gak mandiri", "kamu needy", "ngandelin tuh diri sendiri", "kamu ga butuh orang", dll alias invalidasi, minimize, gaslighting. Respon-respon yang bikin diri semakin meyalahkan diri, mengecilkan diri, shaming, jadi ikutan invalidasi diri, dan bikin diri konstel, itu jauhin aja. Mereka melakukan itu karena tidak mampu berkomunikasi secara terbuka, jujur "aku gak bisa kasih yang kamu butuhkan, karena aku tidka peduli dan tidak ada kepentingan apapun denganmu" dan menerima resiko dari kejujurannya. Jadi semua beban dilimpahkan seolah-olah orang lain yang beban dan bermasalah.

.jpeg)

.jpeg)


.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)